RINGKASAN

  • Proyek rehabilitasi jaringan irigasi Desa Rias, Toboali, Bangka Selatan, senilai Rp43,08 miliar (APBN 2026) dilaporkan mengalami keretakan pada sejumlah dinding saluran sebelum pekerjaan rampung.
  • Petani menduga adukan semen kurang kuat dan ada dugaan penggunaan kembali batu lama.
  • Petani meminta BWS Bangka Belitung memperketat pengawasan, sementara klarifikasi BWS, kontraktor, dan konsultan supervisi masih dikonfirmasi.

TOBOALI, TROPEDO.ID – Proyek rehabilitasi jaringan irigasi di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, senilai Rp43,08 miliar menjadi sorotan setelah sejumlah bagian dinding saluran dilaporkan mengalami keretakan meski pekerjaan belum rampung. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kualitas konstruksi serta kesesuaian pelaksanaan proyek dengan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.

Proyek yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2026 itu memiliki nilai pagu sebesar Rp43.086.980.000. Pekerjaan dilaksanakan oleh PT Graha Anugerah Lestari, dengan pengawasan konsultan supervisi PT Geodinamik Konsultan KSO bersama PT Jasa Perencana Nusantara.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, proyek tersebut menggunakan nomor kontrak HK.02.01/02/KONST/E-PUR/BWS.4.7.1/2026, dengan masa pelaksanaan selama 270 hari kalender sejak 30 Maret 2026.

Namun, kondisi fisik saluran yang dilaporkan mengalami keretakan sebelum pekerjaan selesai menimbulkan kekhawatiran terkait mutu bangunan yang nantinya akan dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan air pertanian masyarakat.

Sejumlah Bagian Saluran Dilaporkan Retak

Berdasarkan pantauan awak media di lokasi pada Minggu (25/10/2026), ditemukan sejumlah bagian dinding saluran irigasi yang mengalami keretakan. Selain itu, terdapat bagian yang dilaporkan retak dan berlubang, kemudian ditutup menggunakan lapisan acian semen.

Temuan tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pemeriksaan teknis oleh pihak berwenang untuk memastikan penyebab keretakan, kualitas material, metode pelaksanaan, serta kesesuaian hasil pekerjaan dengan dokumen kontrak.

Hingga kini, penyebab keretakan maupun ada atau tidaknya ketidaksesuaian terhadap spesifikasi teknis belum dapat dipastikan. Karena itu, evaluasi menyeluruh diperlukan agar persoalan tersebut tidak dibiarkan tanpa penanganan yang jelas.

Pemeriksaan juga penting untuk membedakan keretakan yang hanya terjadi pada lapisan permukaan dengan kerusakan yang berpotensi memengaruhi kekuatan struktur dan fungsi saluran irigasi.

Petani Minta Kualitas Konstruksi Diperhatikan

Kondisi jaringan irigasi tersebut turut menjadi perhatian petani Desa Rias. Salah seorang petani, Surya, menilai kualitas konstruksi harus menjadi prioritas karena saluran irigasi memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan aktivitas pertanian.

Ia menjelaskan, lahan persawahan di Daerah Irigasi (D.I.) Rias seluas sekitar 11 hektare telah ditanami padi selama puluhan tahun. Menurutnya, pembangunan infrastruktur irigasi dengan anggaran puluhan miliar rupiah semestinya memberikan manfaat nyata bagi petani.

“Proyek yang menghabiskan uang negara puluhan miliar ini berupaya mendukung keberlangsungan pertanian dan menjaga harapan para petani di tengah musim kekeringan. Kalau melihat kondisi seperti ini, nampak jauh panggang dari api,” katanya.

Surya juga menyoroti kondisi dinding saluran yang dinilainya perlu diperiksa lebih lanjut. Ia menduga keretakan tersebut berkaitan dengan kondisi adukan semen yang belum cukup kuat serta menemukan indikasi penggunaan kembali material batu lama pada bagian tertentu.

Selain itu, bagian yang dilaporkan mengalami keretakan dan ditutup menggunakan acian semen juga menjadi perhatiannya.

Meski demikian, dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian melalui pemeriksaan teknis untuk mengetahui penyebab kerusakan dan memastikan apakah material maupun metode pengerjaan telah sesuai dengan ketentuan.

Ia berharap kontraktor pelaksana dan instansi yang bertanggung jawab tidak hanya berorientasi pada penyelesaian pekerjaan secara fisik, tetapi juga memastikan konstruksi memenuhi standar mutu dan mampu bertahan dalam jangka panjang.

BWS Babel Diminta Perketat Pengawasan

Surya meminta Balai Wilayah Sungai (BWS) Bangka Belitung memperketat pengawasan terhadap proyek rehabilitasi jaringan irigasi di Desa Rias. Menurutnya, pemeriksaan lapangan diperlukan untuk memastikan setiap tahapan pekerjaan dilaksanakan sesuai ketentuan.

Sejumlah aspek yang dinilai perlu dievaluasi meliputi dimensi dan ketebalan saluran, mutu material, kondisi sambungan konstruksi, kemiringan saluran, volume pekerjaan, serta kekuatan struktur bangunan.

Pemeriksaan juga perlu mencakup kesesuaian pekerjaan dengan spesifikasi teknis, rencana anggaran biaya (RAB), dan ketentuan yang tercantum dalam kontrak.

Menurut Surya, pengawasan yang ketat penting agar anggaran negara yang dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur pertanian benar-benar menghasilkan bangunan berkualitas dan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.

Temuan keretakan sebelum pekerjaan rampung menjadi alasan bagi pihak terkait untuk melakukan evaluasi secara objektif dan terukur. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi, kontraktor perlu melakukan perbaikan berdasarkan rekomendasi teknis dan ketentuan kontrak.

Di sisi lain, konsultan supervisi perlu memastikan bahwa pelaksanaan pekerjaan telah diawasi sesuai tugas dan tanggung jawabnya.

Menunggu Klarifikasi Pihak Terkait

Klarifikasi dari BWS Bangka Belitung, PT Graha Anugerah Lestari selaku kontraktor pelaksana, serta konsultan supervisi diperlukan untuk menjelaskan kondisi saluran yang ditemukan di lapangan, penyebab keretakan, dan langkah evaluasi maupun penanganan yang akan dilakukan.

Konfirmasi tersebut penting untuk memastikan informasi yang disampaikan kepada masyarakat tetap berimbang sekaligus memberikan ruang kepada seluruh pihak terkait untuk menjelaskan kondisi sebenarnya.

“Keberhasilan proyek irigasi tidak semata-mata diukur dari selesainya pembangunan, tetapi juga dari kualitas konstruksi, fungsi saluran, serta manfaatnya dalam menjamin ketersediaan air bagi lahan pertanian masyarakat,” tutup Surya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak media masih berupaya mengonfirmasi BWS Bangka Belitung, PT Graha Anugerah Lestari, dan konsultan supervisi guna memperoleh penjelasan resmi mengenai temuan keretakan tersebut.

Evaluasi teknis diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai kondisi konstruksi sekaligus memastikan proyek rehabilitasi jaringan irigasi D.I. Rias benar-benar memenuhi standar mutu dan mampu mendukung kebutuhan pertanian masyarakat dalam jangka panjang.

(Red)