Autopsi Jenazah ZH Dilakukan untuk Ungkap Penyebab Kematian, Publik Menunggu Hasil Resmi

TROPEDO.ID — Proses autopsi terhadap jenazah ZH, siswa SDN 22 Toboali yang diduga meninggal akibat bullying dan sempat dirawat di RSUD Junjung Besaoh, resmi dilakukan pada Rabu pagi (30/7/2025) di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jalan Mayor Munzir, Toboali.

Tim forensik dari Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepulauan Bangka Belitung diterjunkan langsung untuk mengungkap penyebab pasti kematian ZH yang kini menjadi sorotan publik.

Kasat Reskrim Polres Bangka Selatan, AKP Raja Taufik Ikrar Bintani, S.Trk., S.I.K., seizin Kapolres Bangka Selatan, AKBP Agus Arif Wijayanto, menegaskan bahwa autopsi merupakan bagian penting dari proses penyelidikan yang sedang berjalan.

“Kami ingin memastikan penyebab kematian korban secara medis dan hukum. Proses autopsi ini penting untuk menjawab keraguan publik,” ujarnya kepada media.

Proses autopsi turut disaksikan aparat kepolisian Polres Bangka Selatan, keluarga korban, tokoh agama, kepala lingkungan setempat, serta awak media. Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan tingginya atensi masyarakat terhadap kasus yang berkembang.

Sebelumnya, Direktur RSUD Junjung Besaoh Bangka Selatan, dr. Helen Sukendy, telah memberikan keterangan resmi pada Senin malam (28/7) terkait kondisi medis korban. Ia menjelaskan bahwa ZH pertama kali datang ke rumah sakit pada Selasa siang (22/7) dengan keluhan demam dan sakit perut.

Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya infeksi pada saluran pencernaan, sehingga pasien dirujuk ke dokter bedah dengan diagnosis infeksi usus akut.

“Kondisi pasien sempat membaik, namun kemudian mengalami kontraksi akibat infeksi yang berat. Operasi dilakukan pada Jumat (25/7), namun pada Minggu pagi (27/7) pasien dinyatakan meninggal dunia,” jelas dr. Helen.

Ia juga menegaskan bahwa berdasarkan pemeriksaan awal tim medis, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan fisik atau luka luar yang mengarah pada dugaan penganiayaan.

“Diagnosis kami murni infeksi usus yang berkembang cepat dan fatal,” pungkasnya.

Namun demikian, untuk menjawab spekulasi yang berkembang di masyarakat, termasuk dugaan adanya bullying di lingkungan sekolah, autopsi tetap dilakukan guna memperoleh data forensik yang objektif dan akurat.

Hingga berita ini diturunkan, proses autopsi masih berlangsung di bawah pengawasan ketat pihak berwenang. Hasil resmi autopsi dijadwalkan akan diumumkan setelah tim forensik merampungkan seluruh pemeriksaan.**